TONGKAT DIDALAM MASJID
Siang itu cuaca sedikit cerah. Setelah
menyantap makan siang, kami segera beranjak ke masjid untuk melaksanakan
shalat. Ketika jamaah telah usai, kulihat ada seorang dengan sarung yang
dijadikan tas sedang berdo'a khusyu. Aku
melepas penat dengan bersender di tiang
yang menopang megahnya Masjid Al-Amaliyah. Dua tiang yang berdiri tidak
berjauhan, dengan ornamen keramik kecil disalah satu tiangnya menambah
kemegahan dan elegan tiang-tiang tersebut.
Sempat aku terbawa
suasana nyamannya masjid ini. Tiba-tiba seseorang dengan tongkat kayu
mengagetkanku.
"Maaf.. maaf pak,
" ujarnya.
Dengan terus meminta
maaf kupersilahkan ia lewat diantara dua tiang.
Kuperhatikan ia terus
berjalan sambil mencari jalan keluar dan didapatinya pintu keluar yang biasa
dilalui para akhwat. Sambil duduk disana, ia mengambil tasbih di kantungnya.
Kulihat temanku Irfan
sudah berbaring mencari posisi bersender ditiang masjid.
" ini fan, uang
yang tadi kita makan" kataku sambil mengeluarkan selembaran uang.
" engga ga usah.
Tadi mah gw yg traktir tris" ujarnya sambil menolak dengan isyarat tangan.
Memang begitulah
biasanya mahasiswa ketika mereka makan bersama. Apabila ada diantara mereka
yang memegang uang lebih besar. Tentu akan diwakili terlebih dahulu hingga
nanti setelah usai baru membayar kepada dia yang telah membayarkan. Namun kali
ini rezeki bagiku karena ditraktir oleh temanku Irfan.
Sembari kumasukan
kembali uangku, dan mencari posisi nyaman. Kulihat lelaki tadi tetap duduk
sambil berdzikir.
"Ah, kayanya dia
belum makan siang deh" kataku dalam hati.
Kuhampiri lelaki
tersebut meski berada tepat dipintu khusus akhwat.
Beberapa akhwat baik
yang datang maupun usai shalat tampak bolak balik. Aku tidak perduli, yang
kuperhatikan hanya lelaki tua dengan tongkat disamping kiri, dan tas berukuran
besar dari sarung serta tangan dan bibir yang tidak lepas dari dzikir.
"Assalamu'allaikum
pak...bapak sudah makan siang?" tanyaku menyapa.
"Waallaikum
salam...belum pak." jawabnya lirih.
"Bapak tunggu
sini ya, biar saya belikan makan siang" ujarku menawarkan diri. Karena
bagiku hari ini aku dapat rezeki makan siang gratis.
"Engga engga, ga
usah pak. Kalau mau bapak shodaqoh saja ke saya"
"Loh kok gitu
kenapa emang?" tanyaku.
"Saya sedang
puasa, puasa dawud pak". Ujarnya memberi penjelasan.
Aku yang mendengar
jawaban tersebut sontak kaget. Sambil kuperhatikan diantara bibirnya. Ya,
tampak kering dan ia sedang tidak
berbohong.
Aku semakin tertarik
dengan lelaki ini, sepertinya ia memang tidak melihatku. Karena sedari tadi aku
dipanggil bapak olehnya. Rasa penasaranku muncul. Dan dengan senang hati lelaki
ini menceritakan perjalanan hidupnya.
"Saya sebelumnya
tinggal disalah satu yayasan di Jakarta. Sempat dari pengurus itu menawarkan
operasi mata buat saya. Tapi dengan syarat agar ikut keyakinan mereka. Sebagian
diantara teman saya sudah ada yang melakukan. Diantara mereka berani menjual
iman dan keyakinan mereka demi harta. Demi kehidupan ini." Katanya
mengebu-ngebu. Ia menuturkan kembali kenapa bisa sampai di Bogor.
"Saya waktu
ditawari sempat meminta waktu untuk berfikir. Selama itu pula, saya manfaatin
untuk kabur. Waktu sepi dirasa engga ada aktifitas, saya kabur, dan manjat
pagar yayasan." katanya menjelaskan.
"Saya naik dari
satu angkot, ke angkot lain. Pernah ke Tangerang, Bekasi, dan sekarang ke
Bogor" katanya.
"Emang keluarga
bapak kemana?" tanyaku penasaran.
"Keluarga saya
sudah ga ngakuin saya. Saya udah didepak dari rumah. Saya punya istri dan dua
anak. Tapi sudah cerai. Anak saya dibawa
istri saya. Saya pernah punya rumah di salah satu tempat di jakarta. Tapi saya
jual, dan tinggal di rumah mertua. Pas uang saya habis. Saya didepak dari
rumah. Akhirnya saya kaya gini. Pergi dari satu tempat, ke tempat lain. Dari
masjid ke masjid. Tapi saya engga mau jadi pengemis, karena saya engga mau
dibangkitkan diakhirat dalam keadaan tanpa daging gara-gara mengemis. Kalau ada
pilihan, lebih baik saya mengamen, ada usahanya daripada ngemis minta belas
kasih" Katanya.
Aku sedari tadi begitu
menyimak. Hingga aku kembali bertanya perihal kekurangan bapak ini.
Katanya kedua
penglihatan sudah tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk mata
kanannya, sudah tidak bisa melihat sama sekali. Benar-benar gelap total. Dan
kata doker pun sudah tidak bisa dioperasi. Sedangkan untuk mata sebelah
kirinya. Hanya bisa melihat cahaya terang saja. Dan mata tersebutlah yang
sempat ingin diperjuangkan yayasan untuk dioperasi. Sebab masih ada harapan
untuk sembuh.
"Saya engga bisa
liat keindahan alam ini, keindahan ciptaan Allah Swt, yang terbentang
luas..."
Sambil berkata
demikian, aku perhatikan alam sekitarku, pohon kelapa menjulang tinggi di sudut
masjid, awan yang cerah, rumput-rumput nan hijau. Subhanallah.
" Tapi saya masih
bisa ngrasain orang yang lewat pak. Walaupun kaya gini, saya tetep bersyukur
sama Allah. Mungkin ini ujian buat saya. Saya berharap diakhirat nanti Allah
beri saya kemudahan. Saya selalu berdo'a sama Allah semoga bisa dapet tempat
terbaik disisiNya."
Aku merenung, Allah
berikan ia kekurangan. Namun semangat dan kepercayaannya pada Allah begitu
besar. Apalagi aku yakin. Mata yang terjaga dari maksiat. Allah pasti mudahkan
baginya syurga.!
Kulihat jam tanganku
telah menunjukkan pukul 13:10 Wib. Aku masih ada jadwal kuliah dan harus segera
mengakhiri perbincangan ini.
Ia sudah beberapa hari
tidur di lantai bawah masjid. Dengan tampilan dan raut muka yang bersih. Bahkan
sampai kumis yang tercukur habis aku yakin, lelaki ini benar - benar mussafir
yang bisa merawat diri. Tapi tidak dengan urusan perutnya.
Sempat kuberikan
sedikit shodaqoh untuknya, sekedar untuk menu berbuka dan makan malam.
Aku pergi meninggalkan
ia sendiri.
Aku hampiri Irfan yang
tampak sudah terlelap meski beberapa menit, mengajak kembali ke kelas
melanjutkan perkuliahan.
Kulihat dari jauh,
lelaki tersebut sedang memanjatkan do'a dengan khusyunya.
Dalam hati aku berkata
" Allah lindungi ia, sebaik-baiknya pelindung adalah Engkau. Aamiin"
07.07
Sutrisna Al Farisi
0 Comments :
Posting Komentar